Salah satu pertanyaan yang sering muncul ketika orang tua ingin mengenalkan coding kepada anak adalah: “Anak harus jago matematika dulu nggak?”
Wajar kalau muncul anggapan seperti ini. Coding memang berhubungan dengan angka, logika, pola, dan berbagai konsep matematika. Belum lagi ketika melihat kode yang terlihat rumit, programming bisa terasa seperti sesuatu yang hanya cocok untuk anak yang pintar matematika.
Padahal, anak nggak harus jago matematika untuk mulai belajar coding.
Pada tahap awal, coding lebih banyak mengajarkan anak bagaimana menyusun instruksi, mengenali pola, memecahkan masalah, dan berpikir secara sistematis.
Apa Hubungan Coding dengan Matematika?
Coding dan matematika memang memiliki beberapa hubungan yang cukup dekat.
Ketika membuat program, anak bisa saja menggunakan angka, koordinat, ukuran, waktu, atau operasi matematika tertentu. Dalam project yang lebih kompleks, matematika bahkan bisa menjadi bagian penting dari program.
Contohnya, ketika membuat game sederhana di Scratch, anak mungkin perlu menentukan:
- Berapa langkah karakter harus bergerak
- Di mana posisi sebuah objek
- Berapa skor yang didapat
- Berapa lama sebuah animasi berjalan
- Kapan sebuah kondisi harus dijalankan

Namun, anak tidak perlu menguasai matematika tingkat lanjut untuk memahami konsep tersebut.
Untuk pemula, yang lebih penting adalah kemampuan untuk berpikir secara logis dan mengikuti langkah secara berurutan.
Coding Lebih dari Sekadar Angka
Bayangkan seorang anak ingin membuat karakter di Scratch bergerak menuju sebuah objek.
Anak perlu memikirkan:
“Apa yang harus dilakukan karakter terlebih dahulu?”
Kemudian:
“Kalau sudah sampai, apa yang terjadi berikutnya?”
Dan:
“Bagaimana kalau karakter belum sampai ke objek?”
Pertanyaan seperti ini merupakan bagian dari proses berpikir dalam programming.
Jadi, coding bukan hanya tentang menghitung angka. Anak juga belajar memecah masalah menjadi bagian-bagian kecil, mencari pola, mencoba solusi, dan memperbaiki kesalahan.
Kemampuan tersebut sering disebut sebagai computational thinking.
Apa Kata Penelitian tentang Coding dan Matematika?
Hubungan antara coding dan matematika juga menjadi perhatian dalam penelitian pendidikan.
Salah satu studi yang dilakukan terhadap 29 anak usia 57–68 bulan di sebuah taman kanak-kanak menemukan bahwa kelompok yang mengikuti program aktivitas coding mengalami peningkatan yang signifikan dalam kemampuan mathematical reasoning dibandingkan kelompok kontrol. (PubMed Central (PMC))
Namun, hasil penelitian tentang hubungan coding dan kemampuan matematika tidak selalu berarti bahwa belajar coding otomatis membuat anak lebih pintar matematika.
Sebuah penelitian terhadap siswa kelas 4 dan 5, misalnya, menemukan bahwa aktivitas programming tidak secara otomatis meningkatkan hasil belajar matematika. Peneliti bahkan menekankan bahwa transfer kemampuan dari programming ke matematika tidak selalu terjadi dengan sendirinya. (ScienceDirect)
Artinya, hubungan keduanya cukup menarik, tetapi jangan melihat coding sebagai “jalan pintas” untuk meningkatkan nilai matematika.
Yang lebih tepat adalah melihat coding dan matematika sebagai dua kemampuan yang dapat saling berhubungan dalam situasi tertentu.
Jadi, Apa yang Dibutuhkan Anak untuk Mulai Coding?
Daripada menunggu sampai anak jago matematika, ada beberapa kemampuan yang justru lebih penting untuk mulai belajar coding.
1. Mau Mencoba dan Bereksperimen
Coding hampir selalu melibatkan trial and error.
Program yang dibuat anak mungkin tidak langsung berhasil. Justru dari kesalahan tersebut anak belajar mencari tahu apa yang perlu diperbaiki.
2. Kemampuan Mengikuti Urutan
Program bekerja berdasarkan instruksi.
Anak perlu memahami bahwa urutan tertentu dapat menghasilkan hasil yang berbeda.
Misalnya:
Maju → belok kanan → maju
akan menghasilkan pergerakan yang berbeda dengan:
Belok kanan → maju → maju
Konsep sederhana seperti ini merupakan dasar penting dalam programming.
3. Kemampuan Memecahkan Masalah
Ketika sebuah program tidak bekerja, anak perlu mencari penyebabnya.
Apakah instruksinya salah? Apakah urutannya keliru? Atau ada bagian yang belum dibuat?
Proses mencari jawaban tersebut membantu anak mengembangkan problem solving.
4. Rasa Ingin Tahu
Anak yang suka bertanya “kalau begini, jadinya apa?” justru memiliki modal yang bagus untuk belajar coding.
Coding memberikan ruang bagi anak untuk mencoba berbagai kemungkinan dan melihat hasilnya secara langsung.
Bagaimana Kalau Kemampuan Matematikanya Belum Bagus?
Nggak masalah.
Anak tetap bisa mulai belajar coding dari platform yang sesuai dengan usia dan kemampuannya.
Untuk pemula, ScratchJr dan Scratch bisa menjadi pilihan karena menggunakan block-based programming. Anak dapat menyusun blok perintah secara visual tanpa harus memikirkan syntax seperti pada bahasa pemrograman berbasis teks.
Dari sana, anak bisa belajar konsep seperti:
- Sequence
- Loops
- Events
- Conditions
- Variables
- Problem solving
Seiring meningkatnya kemampuan coding, anak juga akan menemukan situasi yang membutuhkan lebih banyak konsep matematika.
Jadi, matematika tidak harus menjadi syarat untuk mulai coding. Justru kemampuan matematika bisa berkembang dan digunakan seiring dengan meningkatnya tingkat kesulitan project.
Kesimpulan
Anak nggak harus jago matematika untuk mulai belajar coding.
Matematika memang memiliki hubungan dengan programming, terutama ketika anak mulai mengerjakan project yang lebih kompleks. Namun, pada tahap awal, kemampuan seperti logika, mengikuti urutan, problem solving, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk mencoba justru lebih penting.
Coding juga dapat menjadi media untuk menggunakan konsep matematika dalam situasi yang lebih nyata dan interaktif. Yang terpenting, pembelajaran diberikan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan anak.
Mau Coba Belajar Coding Bersama Dinocode?
Kalau anak mulai tertarik dengan coding, nggak perlu menunggu sampai mereka merasa “siap” atau jago matematika terlebih dahulu. Free Trial Class Dinocode bisa menjadi kesempatan untuk mencoba bagaimana proses belajar coding bersama mentor dan melihat apakah metode belajarnya cocok untuk anak.

